Kudeta Mursi Dan Keterlibatan Pentagon


(menteri pertahanan amerika) Hagel dan (kepala staf umum amerika)  Dempsey tengah duduk bersama..menunjukan perhatianya saat mencoba mencegah kesan bahwa amerika sedang memanipulasi peristiwa dibalik layar" (military.com 3 juli 2013)




Apakah Washington dibalik Kudeta (terhadap) Mursi? 

 Ikhwanul muslimin diberi jalan ke pemerintahan dengan dukungan Washington sebagai “pengganti” Husni Mubarak, bukan sekedar alternatif, yang setia patuh dengan konsensus Washington sejak awal kepresidenannya. 

Ketika pasukan tempur tengah menindak ikhwanul muslimin, "coup d'etat" benar benar ditujukan untuk memanipulasi gerakan protes dan mencegah tindakan dari petugas pemerintah yang sebenarnya. 

Penggulingan presiden mursi oleh angkatan bersenjata mesir adalah tidak untuk melawan kepentingan Amerika melainkan semakin mempertegas cengkeraman kepentingan washington.

 "Para demonstran membawa poster  mengecam Obama dan pro-muslimnya Ikhwanul Kairo Duta, Anne Patterson." (F. William Engdahl, Global Research, 4 Juli 2013).

CIA dan Ikhwanul Muslimin 

Badan intelejen Barat punya sejarah panjang bekerjasama dengan Ikhwanul Muslimin. Dukungan inggris atas kerjasama tadi terlihat pada data servis rahasia inggris th 1940an. Berawal pada 1950an menurut pimpinan ofisial intelejen william bear : 

"CIA mendukung ikhwanul muslimin karena kerjasama ini dinilai berhasil dalam menggulingkan Naseer", 1954-1970 : CIA dan ikhwanul muslimin bekerjasama untuk melawan presiden mesi Naseer. Hubungan rahasia CIA ini tetap dipertahankan sepanjang pemerintahan Husni Mubarak.

Sejak awal projek "arab' spring/musim semi arab" tujuan administratif dari obama adalah untuk merusak pemerintahan sekular di timur tengah dan afrika utara dan menanamkan model "pemerintahan islam" yang akan melayani kepentingan geopolitik amerika dan perusahaan perusahaan amerika. ikhwanul muslimin dan CIA agensi intelejen barat memiliki sejarah panjang kerjasama Dukungan inggris atas kerjasama tadi terlihat pada data servis rahasia inggris th 1940an. Berawal pada 1950an menurut pimpinan ofisial intelejen william bear : "CIA mendukung ikhwanul muslimin karena kerjasama ini dinilai berhasil dalam menggulingkan Naseer", 1954-1970

 “Obat Kuat Ekonomi” 

Gerakan protes melawan Mubarak awal tahun 2011 merupakan dampak dari gagalnya reformasi IMF. 

Diawali pada Perang Teluk awal tahun 1991- selama lebih dari 20 tahun- memiskinkan rakyat Mesir, di sisi lain membuka lebar bagi investor asing. Lembah Nil yang selama lebih dari 3000 tahun menjadi lumbung pangan hancur dalam mendukung impor pangan dari AS dan Eropa. Akibat deregulasi harga pangan, penghapusan privatisasi, langkah penghematan menjerumsukan ke dalam kemiskinan dan pengangguran. Pada gilirannya program sosial gagal, sistem keuangan dan ekonomi tidak stabil. Hal yang sejalan dengan reformasi neo liberal adalah pokok persoalan bagi AS mendukung pergantian rezim. Keberhasilan Mursi menduduki presiden tergantung penerimaannya terhadap “obat ekonomi IMF”. "Kami terkesan dengan strategi Presiden Morsi dan Perdana Menteri Kandil yang diusulkan selama pertemuan dengan kami hari ini," kata Lagarde dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri bersama oleh Kandil. (IMF 22 Agustus 2012). Sebuah paket baru reformasi ekonomi IMF (yang mematikan) diluncurkan untuk “mengendalikan transisi ekonomi dan politik Mesir”. Hasil “transisi” dari IMF dan dikenakan oleh kreditor Mesir telah memperburuk kondisi ekonomi (daripada memperbaiki krisis sosial dan ekonomi). Kondisi sosial telah memburuk secara dramatis sejak runtuhnya Hosni Mubarak. Gerakan massa memprotes terhadap Presiden Morsi sebagian besar didorong oleh fakta bahwa era reformasi makro-ekonomi Mubarak yang diberlakukan oleh Washington dan Wall Street yang masih terus berlangsung, menyebabkan proses pemiskinan terus menerus. 

Peran Militer : “Lampu Hijau” dari Penthagon? 

 Media menggabarkan militer Mesir sebagai pihak yang “mendukung” gerakan protes, tanpa mengetahui hubungan dekat antara para petingginya dengan rekan Amerika. Sebagian fakta bahwa gerakan massa meminta “peran pendukung” militer sebagai taktik yang jelas : Ini adalah pesan bahwa militer diterima di seluruh kalangan masyarakat Mesir, di kota, di desa; militer berperan atas undangan, bisa dimengerti keterlibatannya, dibutuhkan dan diharapkan berperan secara nasional, bersedia dan taat atas batas-batas, kejujuran dan tanggung jawab. Sudah diketahui dan dicatat, gerakan massa telah disusupi. Pihak oposisi didukung oleh National Endowment for Democracy (NED) dan Freedom House. Dan gerakan masyarakat sipil Kifaya, didukung oleh Pusat Internasional Konflik Non-Kekerasan yang berbasis di Amerika. Peran militer bukanlah untuk melindungi gerakan akar rumput. Justru sebaliknya: tujuannya adalah untuk memanipulasi pemberontakan dan memadamkan perbedaan pendapat atas nama Washington. Tujuan dari pengambilalihan militer adalah untuk memastikan bahwa kejatuhan pemerintahan Ikhwanul Muslimin tidak menghasilkan transisi politik yang memperlemah kontrol AS atas negara Mesir dan militer. Di saat ada perpecahan penting dalam militer, petinggi Mesir akhirnya menerima perintah dari Pentagon. Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fatah Al-Sisi, yang menghasut kudeta terhadap Presiden Morsi adalah lulusan dari Perang AS College, Carlisle, Pennsylvania. Laporan pers mengkonfirmasi bahwa ia berkonsultasi dengannya (Menteri Pertahanan AS) beberapa kali pada hari-hari menjelang kudeta. Hal ini sangat tidak mungkin bahwa Jenderal Al Sisi akan bertindak tanpa 'lampu hijau "dari Pentagon. Mesir adalah penerima terbesar bantuan militer AS setelah Israel. Militer Mesir dikendalikan oleh Pentagon. Dalam kata-kata Jenderal Anthony Zinni, mantan Panglima Komando Sentral AS (CENTCOM): "Mesir adalah negara yang paling penting di daerah tanggung jawab saya karena akses itu memberi saya ke wilayah tersebut." 

Sumber :

Global Research : “Was Washington Behind Egypt’s Coup d’Etat?”

Related Posts:

KENAPA SURIAH? (Jawaban Untuk Arrahmah)



Kenapa Suriah? Ya Iyalah, Biar Kita Cerdas , Artikel ini tanggapan dari artikel ‘Kenapa Suriah? Catatan Kecil dari Diskusi di Kampus YARSI’ yang dimuat oleh Arrahmah.com (sumbernya Salam Online).

Untuk mereka yang tak banyak mengamati konflik Suriah dan hanya berpegang pada artikel-artikel singkat atau status FB yang tendensius, isi artikel ini seolah-oleh benar dan ilmiah. Si penulis dengan ‘gaya’ menggunakan istilah ‘data sekunder’ untuk mengkritik Dr Joserizal dan Jerry Gray. Pendapat Dr Jose dan Jerry dianggap tidak valid karena menggunakan data yang didapat dari Google, media Barat dan media pro Suriah. Sebaliknya, data yang diajukan oleh tim mujahidin yang mengaku pernah datang langsung ke Suriah dianggap valid (padahal, itupun bukan ‘data’ melainkan pernyataan salah satu/beberapa hadirin diskusi; bukan pembicara, karena pembicara dari pihak pendukung ‘mujahidin Suriah’, menolak hadir; padahal seharusnya bila mereka benar-benar punya data, mereka mau hadir jadi pembicara untuk mempertanggungjawabkan klaim mereka selama ini).

Ketidakcerdasan si penulis artikel ini justru terlihat dari sini. Lha, emangnya ‘data’ (tepatnya ‘cerita’) yang dibawa oleh tim mujahidin Indonesia itu bisa disebut data primer sehingga lebih kuat dari data yang diajukan Dr Jose dan Jerry? Emangnya penelitian ilmiah dianggap sah dengan mengajukan ‘cerita’ (kata si anu..kata si itu…)? Maaf ya, penelitian itu dianggap sah bila melakukan triangulasi data. Apa itu? Itu adalah proses cross-check data, dengan mewawancarai informan yang berada di pihak yang berseberangan, dengan observasi secara berimbang, serta dengan melakukan studi literatur.

Gampangnya begini: di sebuah kampung ada geng motor. Suatu hari, ada anak yang tertabrak motor. Siapa yang nabrak? Kalau polisi datang ke geng motor, dan para anggotanya menjawab, “bukan kami yang nabrak!” kira-kira polisi akan langsung percaya gitu? Jelas tidak. Polisi akan melakukan observasi, siapa aja yang punya motor dan suka kebut-kebutan di kampung itu. Polisi akan mewawancarai korban. Dan polisi akan memeriksa arsip sejarah (bagaimana masa lalu anggota geng motor itu, adakah yang pernah menabrak orang?)

Yang dilakukan para pendukung teroris Suriah (mohon maaf, di artikel itu sendiri si penulis sudah mengakui kok bahwa Jabhah Al Nusrah adalah Al Qaida; dan siapapun sudah tahu bahwa Al Qaida adalah jaringan teroris transnasional; meski mereka mengaku memperjuangkan Islam tetapi mereka menggunakan cara-cara terorisme. Apa itu terorisme? Belajar dulu deh, cari definisinya. Nanya ke mbah Google juga bisa) adalah berpegang pada satu data saja (yaitu, kata-kata para teroris yang mereka temui di Suriah). Ini jelas bukan data yang valid, karena kalau di-cross check dengan data lainnya (dalam proses triangulasi data), ketahuan bahwa data “kata si anu..kata si itu..” tersebut tidak konsisten dengan data lainnya.

Misalnya: Al Qaida menolak mengakui bahwa mereka dapat suplai senjata dari AS/Israel, tapi beli dari orang Irak, dan orang Irak dapat senjata rampasan dari pasukan AS, makanya ditemukan senjata bermerek made in Israel.

Pertama, ya iyalaaah, Al Qaida ngomong begitu. Kalau ngaku, jatuhlah citra yang mereka bangun selama ini sebagai ‘pejuang Islam” (coba balik lagi ke kasus geng motor di atas). Cara kita memverifikasi perkataan Al Qaida ini adalah dengan melihat catatan sejarah panjang bagaimana dulu terbentuknya Al Qaida, siapa yang awalnya mendanai dan mentraining mereka, siapa sebenarnya bin Laden, apa ideologinya, siapa saja yang terbunuh selama ini..? (coba saja browsing, data menyebutkan bahwa korban terorisme Al Qaeda justru mayoritasnya muslim -yang dianggap kafir oleh Al Qaida-; jadi citra bahwa Al Qaida berjuang melawan Barat adalah bohong belaka).

Silahkan browsing juga, kalau teliti dan niat mencari kebenaran, akan ketemu siapa saja tokoh-tokoh Al Qaida dari Libya yang ternyata agen CIA dan mereka ini yang awalnya melatih para ‘mujahidin Suriah’. Dan ketika pasukan dari Suriah tak cukup (artinya, rakyat Suriah sendiri mayoritasnya tak mau ikut bertempur bareng teroris), mereka mendatangkan pasukan dari luar negeri dengan iming-iming jihadis dan masuk surga.

Sayangnya ada banyak orang Indonesia yang tertipu dan sudah ada 55 warga Indonesia yang tewas gara-gara 'jihad' di Suriah. Coba dicek juga, berapa banyak kebohongan yang dilakukan para pendukung Al Qaida selama ini, misalnya melalui foto-foto yang diklaim sebagai korban Assad, jebule korban di Irak, Pakistan, atau Gaza.

Cara mengecek keaslian foto hanya dalam hitungan detik, tinggal masukkan image-nya ke Google Image, langsung ketahuan sumber foto aslinya. Hari gini masih ketipu sama foto palsu?? Ketika narasumber sudah terbukti sering bohong, apa layak data yang dibawanya diterima begitu saja tanpa triangulasi data? Jadi inilah jawabannya, kenapa Suriah perlu kita cermati? Supaya kita cerdas dan jangan mudah dihasut dan diadu domba. Click here to Reply or Forward

Related Posts:

Perang Suriyah Telah Direncanakan Dua Tahun Sebelumnya Oleh Arab Spring

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV Perancis, LCP, mantan menteri luar negeri Perancis, Roland Dumas berkata: “Saya akan menceritakan sesuatu padamu. Saya berada di Inggris dua tahun sebelum kekerasan di Suriah terjadi untuk urusan lainnya. Saya bertemu dengan petinggi-petinggi pemerintah Inggris, yang mengaku pada saya bahwa mereka sedang mempersiapkan sesuatu di Suriah. Ini adalah di Inggris, bukan di Amerika. Inggris sedang mengorganisasi sebuah invasi pemberontakan ke Suriah. Mereka bahkan menawarkan pada saya, meskipun saya bukan lagi menteri luar negeri, jika saya ingin berpartisipasi. Secara natural, saya menolak, saya berkata bahwa saya orang Perancis, dan saya tidak tertarik dengan hal ini.”

Dumas melanjutkan dengan memberikan sebuah pelajaran singkat pada pendengar mengenai alasan utama terhadap perang yang kini telah merenggut hidup puluhan ribu orang.

“Operasi ini sejak lama diketahui. Ini disiapkan, dipertimbangkan, dan direncanakan... di wilayah yang ini penting untuk tahu bahwa rezim Suriah ini memiliki sikap yang sangat anti-Israel. Akibatnya, apapun yang terjadi di wilayah ini – dan saya mendengar ini dari mantan perdana menteri Israel yang memberi tahu saya bahwa: ‘kita akan mencoba untuk bersahabat dengan negara-negara tetangga kita tetapi mereka yang tidak setuju dengan kita akan dihancurkan. Ini merupakan sebuah politik, sebuah pandangan sejarah, pada akhirnya, mengapa tidak? Tetapi seseorang harus tahu mengenai hal ini.”

Dumas merupakan seorang pensiunan menteri luar negeri Perancis yang diwajibkan untuk menggunakan kebijaksanaan atau kewaspadaan ketika mengungkapkan rahasia-rahasia yang mungkin bisa mempengaruhi kebijakan luar negeri Perancis. Itulah mengapa ia membuat pernyataan “Saya orang Perancis, dan saya tidak tertarik dengan hal ini.” Ia tidak bisa mengungkapkan peran Perancis dalam rencana Inggris karena ia akan mengekspos dirinya sendiri pada penuntutan untuk mengungkapkan rahasia negara.

Ada banyak sekali informasi yang salah dari agen-agen dalam pers Inggris dan Perancis, banyak diantara mereka dikenal dengan koresponden dan komentator perang ‘sayap kiri’, yang telah mencoba untuk berpura-pura bahwa Israel mendukung Assad secara rahasia. Mereka yang membuat argumen semacam itu, bisa jadi, bodoh, bebal, atau para agen NATO dan Israel yang sengaja memberikan informasi yang salah.

Dukungan Israel untuk militan Al Qaeda di Suriah telah diakui oleh pers-pers yang sudah menjadi mainstream. Misalnya koran Jerman, Die Welt, mempublikasikan sebuah laporan pada 12 Juni mengenai perawatan medis yang dilakukan oleh Israel untuk pejuang-pejuang Al Qaeda.

Israel merencanakan perang pembinasaan ini bertahun-tahun lalu sesuai dengan rencana yang disebut Yinon Plan, yang mendukung balkanisasi semua negara yang dianggap berpotensi menimbulkan ancaman bagi Israel. Entitas Zionis ini memperalat Inggris dan Perancis untuk memanas-manasi keengganan pemerintahan Obama untuk mengirim lebih banyak lagi pasukan berani mati Amerika ke Suriah atas nama Tel Aviv.

Dari sekian negara-negara penyerang Suriah, Israel merupakan yang paling tenang sejak awal. Hal ini karena Laurent Fabius, Francois Holland, William Hague dan David Cameron sedang berusaha melakukan tawar-menawar dengan mencoba untuk menarik Leviathan Israel Amerika ke dalam perang lain yang membinasakan, sehingga Israel bisa mengendalikan cadangan energi di Timur Tengah, akhirnya menggantikan Amerika Serikat sebagai negara adi kuasa di dunia. Penting juga bagi Tel Aviv untuk tetap diam sehingga tidak mengekspos peran mereka dalam ‘revolusi’ ini, mengingat fakta bahwa para Jihadis fanatik ini tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang berjuang untuk Israel.

Ini merupakan ideologi Zionisme yang tidak lagi memperhatikan Yahudi jika dibandingkan dengan perhatian mereka terhadap siapa yang dianggap sebagai musuh mereka. Koloni Yahudi bertekad untuk menjadi negara adi kuasa di Timur Tengah dalam delusi yang gila bahwa hal ini akan menjadikan mereka pengganti Amerika Serikat sebagai sebuah hegemon global, begitu Amerika Serikat kalah dalam perang Israel.

Perdana menteri Israel pernah memberi tahu Bill Maher, pembawa acara talk show Amerika bahwa alasan mengapa Israel selalu memenangi konflik-konflik kecil, sementara Amerika Serikat terhenti di dalam perang tiada akhir adalah, “Rahasianya adalah karena kita memiliki Amerika,” demikian ucapnya.

Tetapi, Israel sendiri sedang hancur perlahan-lahan. Jika ada yang melarang perbudakan penduduk Palestina, bangsa Yahudi masih akan berada di tingkat tertinggi dalam hal kemiskinan di antara negara-negara berkembang dengan semakin banyak orang Yahudi memilih untuk meninggalkan tanah yang ‘dijanjikan’ ini, sebuah negara garnisun yang dipimpin oleh orang-orang gila, entitas anti-Semit yang mengancam untuk meliputi dunia ini dengan perang dan kehancuran. Israel tidak lagi memperhatikan Yahudi kelas pekerja dibandingkan dengan komunitas etnis lainnya.

Faktanya, jika para penjahat Likudnik ini memperoleh jalan untuk memerintah koloni Israel, kelas pekerja Israel akan menjadi yang pertama di antara yang lain untuk membayar semua ini, karena mereka diwajibmiliterkan untuk melawan para teroris yang diciptakan oleh pemerintah mereka sendiri. Dengan protesnya Yahudi ortodoks di jalan-jalan New York menentang Israel dan minoritas Yahudi Haredi menentang merajalelanya militarisme Israel, Zionisme muncul di balik meningkatnya serangan dari otoritas agama Yahudi dan Yahudi non-Zionis yang keduanya berada baik di dalam atau di luar wilayah pendudukan mereka.

Ini bukan kali pertama bagi Roland Dumas untuk berbicara menentang perang agresi yang dilancarkan oleh rezim Perancis secara berturut-turut. Pada 2011, ia mengungkapkan bahwa ia telah diminta oleh Amerika Serikat ketika ia menjadi menteri luar negeri di pemerintahan Mitterrand untuk mengorganisasi pengeboman terhadap Libya. Dalam peristiwa itu, Perancis menolak untuk bekerja sama. Dumas, yang juga menjadi seorang pengacara, menawarkan untuk membela Colonel Gaddafi di pengadilan kriminal internasional ketika ia ditangkap oleh Nato.

Dumas juga vokal dalam mengutuk kebrutalan Perancis dalam pengeboman neo-kolonial di Pantai Gading di awal tahun 2011, melalui pasukan pembunuh dan teroris yang hampir mirip dengan pasukan yang kemudian dikerahkan di Libya dan Suriah dilepaskan di antara pada penduduk di Pantai Gading dengan tujuan untuk menempatkan diktator Alassane Quattara, seorang boneka IMF, untuk menjadi penguasa di sana. Gbagbo digambarkan sebagai salah satu pemimpin Afrika terbesar 20 tahun terakhir ini oleh Jean Ziegler, seorang sosiolog dan mantan anggota Komite Penasehat Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Gbagbo memiliki rencana untuk menasionalisai bank-bank dan merebut kendali atas mata uang negara dari lembaga keuangan kolonial di Paris. Ia juga ingin menurunkan efek-efek buruk dari restrukturasi IMF dengan menasionalisasikan industri-industri dan menciptakan pelayanan kesehatan yang universal secara gratis. Semua ini mengancam kepentingan perusahaan-perusahaan Perancis di bekas koloni Perancis. Sehingga, oligarki Paris kemudian berupaya untuk menemukan pengganti yang cocok untuk mengurus koloni Pantai Gading ini.

Mereka mengirim pasukan teroris bersenjata, atau ‘pemberontak’ dalam keambiguan imperialisme, yang membunuh di hadapan mereka sementara media Perancis menyalahkan presiden Gbagbo untuk kekerasan yang terjadi. Gbagbo dan Gaddafi telah menentang Africom, rencana Pentagon untuk mengkolonialisasi kembali Afrifa. Itu merupakan alasan lain untuk pengeboman dua negara Afrika itu di tahun 2011.

Rumusnya selalu sama. Imperialisme menyokong ‘pemberontak’, kapanpun kepentingannya terancam oleh rezim yang mencintai negara mereka lebih besar dari perusahaan asing. Kita tidak boleh lupa peristiwa selama Perang Saudara Spanyol 1936, Jenderal Franco dan kroninya juga adalah ‘pemberontak’ dan mereka, sebagaimana rekan-rekan mereka di Libya pada 2011, dibom oleh kekuasaan asing, yang kemudian mengganti pemerintahan progresif-republik dengan fasisme.

Ada banyak orang-orang pro-Israel yang fanatik di Perancis yang menggunakan analogi perang saudara Spanyol sebagai pembenaran untuk upaya intervensi di Libya dan Suriah. Pseudo-filsuf, Henry Bernard Levy adalah salah satunya. Tentu, Levy dengan sangat bebal tidak menyadari bahwa alasan Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat tidak melakukan intervensi secara resmi dalam perang saudara Spanyol adalah karena mereka diam-diam membantu para ‘pemberontak’ sejak awal. Mereka memungkinkan terjadinya pengiriman senjata untuk Franco dan teman-teman ‘pemberontak’nya sembari berupaya untuk menghalangi atau mencegah pengiriman senjata untuk pemerintah Spanyol, sebagaimana Suriah saat ini, dibantu oleh Moscow. Siapapun yang mempelajari mengenai perang saudara Spanyol, tahu bahwa semua negara imperial ini menginginkan Franco menjadi benteng untuk melawan komunisme.

Tak ada satupun yang lebih dicintai imperialisme selain pemberontakan tanpa sebab. Sementara yang dibenci imperialisme, adalah para revolusioner. Itulah mengapa ‘pemberontak’ yang dikirim imperialisme ke negara-negara lain untuk menjajah mereka atas nama bank-bank dan perusahaan-perusahaan asing, harus dipasarkan sebagai ‘revolusioner’ untuk menjamin dukungan dari pasukan borjuis picik Monty Python, golongan ‘sayap kiri’ seperti Democracy Now! dan sejenisnya.

Dumas bukanlah satu-satunya pejabat tinggi Perancis yang mencela New World Order. Mantan duta besar Perancis untuk Suriah, Michel Raimbaud menulis sebuah buku pada tahun 2012 yang berjudul ‘Le Soudan dans tous les états’, di mana ia mengungkapkan bagaimana Israel merencanakan dan menghasut perang saudara di Sudan utara untuk membalkanisasi negara yang dipimpin oleh pemerintah pro-Palestina. Ia juga mengekspos kelompok media pro-Israel dan LSM-LSM ‘hak asasi manusia’ untuk menciptakan narasi ‘kemanusiaan’ yang menyerukan adanya intervensi militer Amerika Serikat dalam konfik itu.

Subyek penelitian ini dibahas secara luas oleh jurnalis investigasi Afrika, Charles Onana dalam bukunya Al-Bashir & Darfour LA CONTRE ENQUÊTE pada 2009.

Ada banyak pensiunan pejabat Perancis yang berbicara mengenai kebijakan yang menyebabkan kehancuran ini dalam pemerintahan Perancis, termasuk di dalamnya mantan kepala intelijen Perancis Yves Bonnet. Ada juga laporan-laporan mengenai perbedaan pendapat di dalam angkatan bersenjata Perancis dan aparat intelijen.

Setelah pembunuhan Kolonel Gaddafi di Oktober, 2011, mantan duta besar Perancis untuk Libya, Christian Graeff, berbicara pada stasiun radion Perancis, France Culture, bahwa mereka bertanggung jawab untuk penyebaran kebohongan dan propaganda perang atas nama Nato selama perang. Graeff juga memperingatkan penyiar radio bahwa salah informasi semacam itu hanya terjadi di dalam pikiran yang diperbudak, tetapi tidak di negara dengan pikiran bebas.

Kekuatan lobi Israel di Perancis merupakan hal yang jarang didiskusikan dalam berbagai kalangan. Di Perancis, ada hukum yang menolak pertanyaan atau penolakan holocaust. Meskipun demikian, penolakan terhadap holocaust di Korea, Guatemala, Palestina, Indonesia, dan puluhan genosida yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel tidak hanya sah, tetapi juga merupakan norma yang dihormati.

Lobi yang sama, yang memperkenalkan Loi Gayssot di tahun 1990, yang secara efektif mengakhiri kebebasan berekspresi di Perancis, juga melarang investigasi independen mengenai genosida yang narasinya telah mereka tulis, seperti genosida di Rwanda, di mana Israel mengambil peran sebagai pendukung ‘pemberontak’ yang dipimpin oleh Paul Kagame, yang menginvasi Rwanda dari Uganda dari tahun 1991 sampai 1994, yang mengarah pada genosida terhadap Tutu dan Tutsi. Beberapa peneliti dan akademisi yang serius telah menulis mengenai genosida di Rwanda, yang digunakan berulangkali oleh lobi dari Israel sebagai sebuah studi kasus untuk membenarkan intervensi ‘kemanusiaan’ oleh kekuasaan Barat. Kebijakan Zionis ini berupaya memperlihatkan bahwa penulis-penulis ini dituntut untuk ‘meniadakan’ kebohongan-kebohongan imperialisme yang menjijikan dalam konflik Afrika.

Sekarang, lobi Israel tengah memaksa pemerintah Perancis untuk menuntut pesan-pesan di twitter yang dianggap ‘anti-Semit’. Ini merupakan satu langkah lebih maju untuk menciptakan sebuah negara totalitarian dimana semua kritik terhadap imperialisme, perang asing, rasisme, penindasan, dan mungkin akhirnya kritik terhadap kapitalisme masuk ke dalam rubrik ‘anti-Semit’.

Orang-orang ini adalah orang-orang sakit, dan mereka yang menyerah pada mereka adalah orang yang lebih sakit lagi. Mungkin, etimologi kata sakit ‘sickness’ yang serumpun dengan kata dalam bahasa Jerman Sicherheit (security atau keamanan) menurut dictionary.com bukanlah suatu kebetulan. Sebab, apa yang sedang sakit dalam masyarakat kita adalah kultus terhadap keamanan, pengawasan tiada akhir, kamera di mana-mana, kultus terhadap ‘mata serba melihat’, tatapan gasang sebagai bagian dari gencarnya wacana mengenai terorisme oleh mereka yang menspesialisasikan diri dalam pelatihan yang mereka klaim sebagai upaya untuk melindungi kita dari para teroris berbahaya. Meskipun kata security dan sickness ini berhubungan secara linguistik atau tidak, namun, kedua kata ini serumpun secara arti filosofis.

Roland Dumas dan orang-orang sepertinya harus dihargai karena memiliki keberanian untuk mengungkapkan banyak hal yang bagi banyak orang yang korup secara moral, terlalu lemah dan pengecut untuk mengungkapkannya.

Ketika pemerintah Perancis dan agen-agen medianya meneriakkan histeria untuk perang di Suriah, Roland Dumas, sekarang di usia senjanya, memperingatkan orang-orang mengenai konsekuensi terhadap ketidakpahaman mereka mengenai ke mana Israel tengah mengarahkan dunia ini. Akankah ada cukup orang mendengarkan peringatannya?

Related Posts: