Kesaksian Pandangan Mata Dari Suriyah

Kesaksian Pandangan Mata Dari Suriyah

Kesaksian Atas Konflik Suriah

Berikut ini merupakan kesaksian seorang Jurnalis dan sekaligus delegasi perdamaian dari lembaga Musalaha International tentang kondisi di Suriah. Secara garis besar menekankan bahwa konflik di Suriah telah melibatkan banyak aktor, baik internal dan eksternal. Banyak kerusakan yang diakibatkan, terlebih pada korban kemanusiaan. Oleh karena itu, Suriah yang berdaulat harus tetap dihormati untuk menyelesaikan urusannya sendiri, tanpa campur tangan dan intervensi pihak-pihak asing yang selama ini justru memperkeruh susana damai di sana. Secara lebih lengkap dapat anda simak berikut.

Perjalanan ke Damaskus : Sebuah Laporan Kesaksian

Oleh
Antonio Carlos Silva Rosa *)

Saya ikut berpartisipasi, pada 01-11 Mei, 2013 di Delegasi Perdamaian Musalaha International ke Libanon-Suriah bersama rekan TRANSCEND anggota pemenang Nobel Perdamaian Mairead Maguire, dari Irlandia, dan 15 lainnya dari delapan negara. Menyadari tanggung jawab saya, terutama untuk teman-teman saya yang baru di Suriah dan Lebanon, saya akan mencoba untuk melaporkan, menjelaskan, memahami apa yang saya lihat, dengar dan alami, juga menawarkan pemandangan dan wawasan berdasarkan wawancara. Namun, laporan ini akan lebih dari sekedar artikel.

Kesan pertama: orang-orang, masyarakat sipil, wanita, pria, remaja, orang tua, anak-anak, pekerja, jalan Arab, seperti yang disebut. Itu membingungkan datang ke negara itu untuk pertama kalinya mengetahui apa yang saya pikir saya tahu dan melihat sikap tenang, positif pada orang, yang bisa disalahartikan sebagai apatis, namun menunjukkan peduli, mata yang menanti dan ekspresi wajah. Setelah beberapa kali saya melihat tidak ada yang mencolok dari kemarahan atau ekspresi negatif di udara; orang-orang menjalankan bisnis harian mereka seolah-olah tidak ada yang terjadi, seolah-olah hidup normal. Tidak ada teriakan untuk membalas dendam terhadap banyak agresor eksternal mereka, tidak ada tinju di udara, tidak ada demonstrasi menentang diktator. Kontak mata mengungkapkan keseriusan, rasa ingin tahu, kebaikan, harapan, keramahan, kebahagiaan melihat orang asing. Tidak ada tertawa umum atau tersenyum sekalipun. Berat-hati tidak memungkinkan untuk sembrono. Rakyat Suriah menderita, mereka sedih, terjebak dinding, menjadi korban dari mereka yang tidak bertanggung jawab. Mereka hanya tidak tahu mengapa mereka terancam, diserang, dibunuh, disiksa, dan dihina begitu kejam dari begitu banyak bidang. Konsep perang tanding adalah asing bagi mereka meskipun mereka itulah intinya. Ketakutan akan kekerasan psikologis dan emosional akan merusak daripada hal yang nyata. Maklum, mereka takut berbicara di depan umum dan yang kemudian diidentifikasi dan ditargetkan oleh jihadis.

Tapi sekali lagi, itu selalu terjadi, bukan? Siapa yang peduli tentang orang-orang tak penting ketika begitu banyak faktor yang memaksa bermain? Seperti keuntungan culas yang dibuat oleh perusahaan minyak multinasional, 7 saudara kartel, dan pelestarian gaya hidup boros dari orang orang kaya, negara-negara yang lebih kuat yang membutuhkan-dan akan mengambil dengan cara apapun yang diperlukan-minyak Suriah yang saat ini sayangnya ada di bawah kaki mereka?

Membingungkan juga untuk menemukan sebuah negara penuh dengan aktivitas dan kehidupan, dimana anak-anak bermain di taman atau berjalan ke sekolah dengan seragam mereka, pergi ke pasar terbuka penuh dengan orang, lalu lintas yang padat, bus berjalan, kehidupan yang terjadi di sekitar Damaskus. Membingungkan karena saya telah terdorong untuk menemukan sebuah negara dalam reruntuhan, orang melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari bom, tank di jalanan, sebuah negara polisi membantai warganya sendiri, penderitaan skala besar, menghancurkan gedung-gedung, orang-orang yang menolak pemerintah secara paksa, dan sebagainya. Namun, saya melihat tidak ada hal seperti di atas, justru sebaliknya. Tapi Anda akan memaafkan ketidaktahuan saya, karena saya orang Barat dan itulah apa yang kita dengar, menonton dan membaca di media korporasi kami, yang tanpa sejumput rasa malu, kejujuran atau kemanusiaan memberitahu kami setengah kebenaran, sindiran, kebohongan. Dan saya berdiri pada posisi yang salah telah percaya kepada mereka seperti orang bodoh. Meskipun demikian, negara seolah-olah dibagi dengan pos-pos pemeriksaan di setiap pintu keluar masuk strategis. Untuk memberikan gambaran, hotel Damaskus kami dikelilingi oleh enam pos pemeriksaan yang berbeda di sekitarnya. Personel bersenjata dan tentara di jalanan merupakan pemandangan umum yang menambah rasa aman.

Mairead dan Ibu Agnès-Maryam Soeur (pemimpin kami) bertemu secara pribadi dengan pejuang bersenjata Suriah dan kami diperkenalkan kepada beberapa orang korban kekejaman mereka. Termasuk: Perdana Menteri Suriah Mr Wael Al Halki, Deputi PM dan Menteri Urusan Ekonomi Mr Qadri Jameel (oposisi), Menteri Kesehatan Dr Saed Anayef, Menteri Sosial Ms Kinda Al-Shammat (wanita muda yang menyenangkan dan cerdas), Menteri Kehakiman Dr Najem Hamad Al-Ahmad, Menteri Penerangan Mr Omran Ahed Al-Zouabi, Menteri Luar Negeri Walid Muallem Mr, Duta Besar Suriah untuk Lebanon Ali Abd Karim Ali, duta besar Iran ke Libanon, dan Jenderal Michael Aoun, pemimpin partai Lebanon berpengaruh (yang dikabarkan mendiskriminasikan pengungsi Palestina).

Kami mengunjungi Dewan Rakyat Suriah (parlemen), rumah sakit, kamp pengungsi, diberi pengarahan oleh koordinator lapangan senior Maeve Murphy di pusat UNHCR di Zahleh-Lebanon, dan bertemu dengan wakil dari Bulan Sabit Merah Suriah, dan dengan sopir ambulans dan petugas kesehatan. Kami juga disambut oleh beberapa pemimpin dari berbagai agama, sekte dan agama, disambut di gereja-gereja dan masjid, dan saya berbicara dengan orang biasa setiap kali ada kesempatan di toko-toko dan di jalanan. Saya berbicara dengan anggota aktif dari oposisi politik terhadap rezim sekarang. Dia berada di penjara selama 24 tahun, dibebaskan 11 tahun yang lalu, yang ingin perubahan-tapi tanpa campur tangan pihak luar seperti yang diceritakan kepada saya secara tekstual.. Berusia 71 tahun dan seorang pria cerdas yang menolak untuk memberikan namanya juga mengatakan kepada saya dia tidak menikah dan punya anak karena dia berada di penjara, dan ia malu itu. Bersambung.....

Related Posts:

MANHAJ FIR'AUN

"NEO" MANHAJ FIR'AUN
oleh Wan Al (Catatan) pada 29 April 2012 pukul 13:12

Saat Fir’aun mencoba meraba apa yang telah disampaikan oleh Nabi Musa alaihis salam saat musa di tanya siapa Tuhanmu, dan musa menjawab bahwa Tuhan Nabi Musa adalah “Tuhan yang memiliki langit dan bumi”.

Fir’aun mencoba dengan ber sangka-sangka di mana keberadaan Tuhan Musa itu.

Berangkat dari pikiran sempitnya yang menyangka “setiap yang ada pasti punya tempat”. dan pilihan yang ada cuma dua yakni di langit atau di bumi, dan bila di bumi tentu Nabi Musa as telah menunjukkan keberadaan Tuhannya.Tapi nyata nya di bumi tidak ada.Maka Fir’aun menyangka bahwa jika Tuhan Musa tidak di bumi, barangkali ada di langit.

Fir'aun yang telah termakan dengan asumsi nya sendiri yang salah kaprah, ia mencoba membuktikan keberadaan Tuhan Musa yang ia sangka bertempat di langit, sehingga ia perintahkan Haman untuk membangun bangunan yang tinggi, agar ia bisa melihat Tuhan Nabi Musa, sebagaimana di ceritakan dalam Al-Quran Surat Ghafir ayat 36-37 :
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَزُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُعَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ (37)

“Dan berkatalah Fir`aun:“Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu [36] (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan nya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir`aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir`aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian [37]“.


Imam Ar-Razi [606 H] dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan ada 4 masalah yang dipahami oleh golongan musyabbihah dari ayat ini :

وفي الآية مسائلالمسألة الأولى : احتج الجمع الكثير من المشبهة بهذه الآية في إثبات أن الله في السموات وقرروا ذلك من وجوه الأول : أن فرعون كان من المنكرين لوجود الله ، وكل ما يذكره في صفات الله تعالى فذلك إنما يذكره لأجل أنه سمع أن موسى يصف الله بذلك ، فهو أيضاً يذكرهكما سمعه ، فلولا أنه سمع موسى يصف الله بأنه موجود في السماء وإلا لما طلبه في السماء ، الوجه الثاني : أنه قال وإني لأظنه كاذباً ،ولم يبين أنه كاذب فيماذا ، والمذكور السابق متعين لصرف الكلام إليه فكأن التقدير فأطلع إلى الإله الذي يزعم موسى أنه موجود في السماء ،ثم قال : { وَإِنّى لأَظُنُّهُ كاذبا } أي وإني لأظن موسىكاذباً في إدعائه أن الإله موجود في السماء ، وذلك يدلعلى أن دين موسى هو أن الإله موجود في السماء الوجه الثالث : العلم بأنه لو وجد إله لكان موجوداً في السماء علم بديهي متقرر في كل العقول ولذلك فإن الصبيان إذا تضرعوا إلى الله رفعوا وجوههم وأيديهم إلى السماء، وإن فرعون مع نهاية كفره لما طلب الإله فقد طلبه في السماء ،وهذا يدل على أن العلم بأن الإله موجود في السماء علم متقرر في عقل الصديق والزنديق والملحد والموحد والعالم والجاهل .فهذا جملة استدلالات المشبهة بهذه الآية

“Dan dalam ayat tersebut ada beberapa masalah.
Masalah pertama , kebanyakan golongan Musyabbihah (menyamakan Tuhan dengan makhluk) berhujjah dengan ayat ini dalam menyebutkan (Itsbat) bahwa Allah di langit, dan mereka menjelaskan nya dengan bermacam alasan :

Alasan pertama :
Sesungguhnya Fir’aun adalah dari pada pengingkar bagi ada (wujud) Allah, dan semua yang ia sebutkan tentang sifat Allah itu sungguh karena bahwa ia mendengar dari Nabi Musa as yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah ada di langit, seandainya bukan demikian, kenapa juga Fir’aun mencari Tuhan ke langit.

Alasan kedua :
Fir’aun berkata: “sungguh aku yakin Musa seorang pendusta” dan ia tidak menyatakan tentang apa Musa berdusta, alasan di atas (alasan pertama) memastikan maksud Fir’aun adalah Musa berdusta tentang keberadaan Tuhan di langit, seolah-olah Fir’aun berkata : “maka aku lihat Tuhan yang di anggap oleh Musa sesungguhnya Dia (Tuhan) ada di langit”, kemudian Fir’aun berkata :“sungguh saya yakin Musa seorang pendusta” yakni “sungguh aku yakin Musa berdusta tentang anggapan nya bahwa Tuhan ada di langit”, dan itu menunjukkan bahwa agama Musa adalah Allah ada di langit.

Alasan ketiga :

pengetahuan bahwa “kalau Tuhan ada, sungguh Dia ada di langit” adalah ilmu badihi (pengetahuan yang datang sendiri dan mustahil di tolak atau Fitrah) yang terdapat pada setiap akal, karena itu anak kecil saja apabila tunduk kepada Allah ia mengangkat wajah dan tangan nya ke langit, dan bahkan Fir’aun pun sedangkan ia sangat kufur, manakala ia mencari Tuhan, maka ia cari ke langit, dan ini menunjukkan sungguh mengetahui Tuhan ada dilangit adalah ilmu yang terdapat pada akal orang yang benar, dan Zindik, dan Mulhid, dan Muwahhid, dan Alim dan Jahil. Inilah kesimpulan cara berdalil kaum Musyabbihat dengan ayat ini” [Lihat Tafsir Al-Kabir Ar-Razi, surat Ghafir : ayat 36-37] .

Dan Imam Ar-Razi pun telah menjawab tiga alasan kaum Musyabbihah di atas, dalam Tafsir nya.

Imam Ar-Razi telah menjawab tiga alasan kaum Musyabbihah dalam berdalil dengan ayat tersebut, ini lanjutan dari tafsir Ar-Razi di atas :

والجواب :أن هؤلاء الجهال يكفيهم في كمال الخزي والضلال أن جعلوا قول فرعون اللعين حجة لهم على صحة دينهم ، وأما موسى عليه السلام فإنه لم يزد في تعريف إله العالم على ذكر صفة الخلاقية فقال في سورة طه { رَبُّنَا الذى أعطى كُلَّ شَىء خَلْقَهُ ثُمَّ هدى} [ طه : 50 ] وقال في سورة الشعراء { رَبُّكُمْ وَرَبُّءابَائِكُمُ الأولين * رَبُّ المشرق والمغرب وَمَا بَيْنَهُمَا } [ الشعراء : 26 ، 28] فظهر أن تعريف ذات الله بكونه في السماء دين فرعون وتعريفه بالخلاقية والموجودية دين موسى ، فمن قال بالأول كان على دين فرعون ، ومن قال بالثاني كان على دين موسى ، ثم نقول لا نسلم أن كل ما يقوله فرعون في صفاتالله تعالى فذلك قد سمعه من موسى عليه السلام ، بل لعله كان على دين المشبهة فكان يعتقد أن الإله لو كان موجوداً لكان حاصلاً في السماء ، فهو إنما ذكر هذا الاعتقاد من قبل نفسه لا لأجل أنه قد سمعه من موسى عليه السلام .وأما قوله { وَإِنّى لأَظُنُّهُ كاذبا } فنقول لعله لما سمع موسى عليه السلام قال : { رَبّالسموات والأرض } ظن أنه عنى به أنه رب السموات ، كما يقال للواحد منا إنهرب الدار بمعنى كونه ساكناً فيه ،فلما غلب على ظنه ذلك حكى عنه ، وهذاليس بمستبعد ،فإن فرعون كان بلغ في الجهل والحماقة إلى حيث لا يبعد نسبة هذا الخيال إليه ، فإن استبعد الخصم نسبة هذا الخيال إليه كان ذلك لائقاً بهم ، لأنهم لما كانوا على دين فرعون وجب عليهم تعظيمه . وأما قوله إن فطرة فرعون شهدت بأن الإله لوكان موجوداً لكان في السماء ، قلنا نحن لا ننكر أن فطرة أكثر الناس تخيل إليهم صحة ذلك لا سيما من بلغ في الحماقة إلى درجة فرعون فثبت أن هذا الكلام ساقط

“Jawab : Sesungguhnya mereka (Musyabbihah) adalah orang-orang yang jahil, yang membuat mereka semakin lengkap dalam kehinaan dan kesesatan, oleh karena mereka telah menjadikan perkataan Fir’aun yang terlaknat, sebagai dalil mereka atas kebenaran agama mereka, sementara Nabi Musa as dalam memperkenalkan Tuhan, tidak lebih dari sekedar menyebutkan sifat penciptaan, sebagaimana dalam surat Thoha :50 “Tuhan kita adalah yang memberikan tiap sesuatu bagi makhluk-Nya kemudian memberi petunjuk” dan sebagaimana dalam surat Asy-Syu’ara ayat 26, 28 “Tuhan kalian dan Tuhan bapak kalian yang terdahulu – Tuhan timur dan barat dan diantara kedua nya”

Maka nyatalah bahwa memperkenalkan Tuhan dengan keadaannya di langit adalah keyakinan i'tiqod Fir’aun, dan memperkenalkan Tuhan dengan penciptaan dan makhluk adalah agama Nabi Musa, siapa yang berpendapat dengan yang pertama, adalah ia di atas keyakinan Fir’aun, dan siapa yang berpendapat dengan yang kedua, adalah ia di atas agama Nabi Musa,

kemudian kita menjawab : kita tidak bisa menerima bahwa semua yang disebutkan Fir’aun tentang sifat Allah ta’ala karena ia pernah mendengar dari Nabi Musa as, tapi karena Fir’aun berada dalam persangkaan Musyabbihah, maka tentu ia berkeyakinan jika memang Tuhan ada, pasti Dia berada di langit, maka keyakinan Fir’aun ini sungguh datang dari diri nya, bukan karena mendengar dari Nabi Musa, adapun perkataan Fir’aun “sungguh aku yakin Musa adalah pendusta” maka kita jawab,

ketika Fir’aun mendengar Nabi Musa berkata “Tuhanku Tuhan Pencipta langit dan bumi” lalu Fir’aun menyangka maksud Nabi Musa as bahwa Tuhan nya menetap di langit, sama seperti ungkapan “dia yang punya rumah ini” maksud nya dia tinggal dirumah itu.

Ketika Fir’aun semakin yakin dengan sangkaan nya maka ia sebutkan asumsi nya, dan ini terjadi, karena Fir’aun adalah sangat jahil sehingga wajar berasumsi demikian kepada nya, bila ada yang bilang tidak mungkin Fir’aun berasumsi demikian, itu karena asumsi tersebut layak dengan mereka, ketika mereka berada di atas keyakinan Fir’aun, tentu mereka sangat menghargai apa yang jadi persangkaan Fir’aun itu, dan adapun alasan Musyabbihhah “sesungguhnya fitrah Fir’aun bersaksi bahwa Tuhan kalau Dia ada sungguh Dia berada di langit”

maka kita jawab: kita tidak mengingkari bahwa fitrah kebanyakan manusia menyangka benar demikian, apa lagi orang yang kejahilannya telah setingkat kejahilan Fir’aun, maka alasan fitrah tidak bisa menjadi alasan yang dapat di terima ” . [Lihat Tafsir Ar-Razi, surat Ghafir : ayat 36-37]

Imam Abu Mansur Al-Maturidi berkata :

للمشبهة تعلق بظاهر هذه الآية يقولون: لولا أن موسى – عليه السلام – كان ذكر وأخبر فرعون: أن الإله في السماء، وإلا لما أمر فرعون هامان أن يبني له مايصعد به إلى السماء ويطلع على إله موسى على ما قال تعالى خبراً عن اللعين.لكنا نقول: لا حجة لهم؛ فإنه جائز أن يكون هذا من بعض التمويهات التي كانت منه على قومه في أمر موسى – عليه السلام

“Kaum Musyabbihah [menyerupakan Allah dengan makhluk] berpegang dengan dhohir ayat ini, mereka beralasan : Seandainya bukan karena Musa as telah menyebut dan memberitahu Fir’aun bahwa Tuhan di atas langit, sungguh Fir’aun tidak menyuruh Haman membangun bangunan agar ia dapat naik ke langit dan melihat Tuhan Nabi Musa, sebagaimana Firman Allah menceritakan pernyataan Fir’aun[Al-La'in].

Tetapi kita menjawab : Tidak ada dalil yang jelas bagi mereka, karena sebenarnya pernyataan Fir’aun tersebut sebagian dari kedustaan atau kepura-puraan Fir’aun kepada kaum nya tentang Musa as”. [Lihat Tafsir Ta'wilat Ahlus Sunnah surat Ghafir ayat 37].

Imam Al-Qusyairi [465 H] berkata :

ولو لم يكن من المضاهاة بين مَنْ قال إن المعبودَ في السماء وبين الكافر إلا هذا لكفي به خِزْياً لمذهبم . وقد غَلِطَفرعونُ حين تَوَهَّمَ أنَّ المعبودَ في السماء ، ولو كان في السماء لكان فرعونُ مُصِيباً في طَلَبِه من السماء .قوله جل ذكره : { وَكَذَالِكَ زُيِّنَلِفِرْعَوْنَ سُوءُعَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِى تَبَابٍ } .أخبر أنَّ اعتقادَه بأنَّ المعبودَ فيالسماء خطأٌ ، وأنَّهبذلك مصدودٌ عن سبيل الله

“Tiada persamaan antara orang yang berkata bahwa Tuhan di langit dengan orang Kafir [yang menyembah berhala di bumi] kecuali mereka [sama-sama meyangka Tuhan bertempat], sungguh cukup dengan ini, kehinaan pendapat mereka (kaum musyabihah yang menganggap Tuhan Bertempat). Dan sungguh Fir’aun salah sangka ketika memahami bahwa Tuhan di langit, seandainya benar Tuhan di langit, sungguh Fir’aun benar pada mencari Tuhan ke langit, sementara pada Firman Allah selanjutnya, Allah Berfirman dengan pernyataan

وَكَذَالِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِوَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِى تَبَابٍ

Allah menyatakan bahwa i’tiqad Fir’aun (“Tuhan di langit”) itu adalah persangkaan yang salah, dan dengan demikian ia pun tertutup dari jalan Allah”.[Lihat Tafsir Lathaif Al-Isyarat surat Ghafir ayat 37] .


TAFSIR At-Thabrani [360 H] berkata :

وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً ، أي إني لأظن موسى كَاذِباً فيما يقولُ إنَّ له ربّاًفي السَّماء“وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً

Maksud nya, sungguh aku yakin Musa berdusta pada pernyataan nya bahwa bagi nya ada Tuhan di langit“. [Lihat Tafsir At-Thabrani surat Ghafir ayat 37].

Di sini biasanya mereka yang berkeyakinan musyabihah mencoba mencari celah dengan menuliskan sebagian saja, atau memotong kutipan tafsir, untuk membenarkan pernyataan mereka pada artikel yang mereka tulis.

Padahal selanjutnya Imam At-Thabrani menjelaskan siapa yang meyakini Tuhan di langit.

ولما قالَ موسى: ربُّ السَّماواتِ، فظنَّ فرعون بجهلهِ واعتقاده الباطل أنه لَمَّا لَم يُرَ في الأرضأنه في السماء


“Dan mana kala Nabi Musa berkata : Robbu As-Samawat, Fir’aun menyangka dengan kejahilannya dan i’tiqad nya yang bathil, bahwa ketika Tuhan Nabi Musa tidak ada di bumi, pastilah Dia di langit“.[Lihat Tafsir At-Thabrani surat Ghafir ayat 37].

KESIMPULAN

Manhaj Fir’aun adalah Manhaj nya orang-orang yang meyakini Allah bertempat di langit, karena Fir’aun orang yang menduga Allah bertempat di langit, hanya saja Fir’aun tidak percaya adanya Allah karena dirinya tidak bisa membuktikan sendiri dengan cara naik ke langit.



Ajaran Nabi Musa tidak mengajarkan keyakinan Tuhan berada di langit, tapi itu hanya salah kaprah Fir’aun dalam memahami apa yang disampaikan oleh Nabi Musa.




Subhanaka Robbi Izzati Amma Yashifun

Related Posts:

AKIBAT FANATIK BUTA

AKIBAT FANATIK BUTA

Seorang Pengikut sakte Salafi Mencoba Hentikan Azan I dan Rampas Tongkat Khatib Jum'at

Suka Makmue- Tiga jamaah shalat Jumat yang terdiri seorang ayah bersama dua anaknya mengamuk di Masjid Baitul Qudus, Desa Keudee Seumot, Ulee Jalan, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, pada saat pelaksanaan shalat Jumat (17/5). Ayah dan anak ini sempat menggagalkan kumandang azan pertama dan kemudian merampas tongkat khatib saat berkhutbah.

Menurut informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, sang ayah berinisial H IB beserta dua anaknya, yaitu Ar dan Ir. Ketiganya merupakan jamaah shalat Jumat di Masjid Baitul Qudus, kemarin.

Ketenangan di dalam masjid mendadak ricuh ketika muazin (bilal) bernama Tgk Ali Hasyimi mengumandangkan azan pertama. Tiba-tiba seorang jamaah berinisial H IB bangun dan merebut mikrofon yang digunakan Tgk Ali Hasyimi. Aksi menghentikan azan itu dibantu oleh dua Ar dan Ir yang tak lain adalah putra dari H IB. Pakaian yang dikenakan Tgk Ali Hasyimi putus kancingnya akibat serangan mendadak itu. Untungnya, sejumlah jamaah lain cepat melerai sehingga tak sempat terjadi baku hantam.

Tgk Ali Hasyimi berusaha melanjutkan kumandang azan yang terputus. Namun, lagi-lagi satu keluarga ini mengamuk dan marah-marah serta menarik korban sambil mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar oleh jamaah lainnya. Akhirnya, kumandang azan terpaksa dihentikan.

Rampas tongkat khatib

Setelah suasana terkendali, panitia mengumumkan tatalaksana ibadah shalat Jumat hari itu dengan mempersilakan khatib Tgk Saleh Ali G untuk menyampaikan khutbah.

Ternyata, ketika khatib memulai khutbah, lagi-lagi H IB bersama kedua anaknya mengamuk. Mereka merampas tongkat yang ada di tangan khatib. H IB beralasan, penggunaan tongkat oleh khatib tak pernah dilakukan di masjid itu. Akhirnya para wahabier ini kini telah berurusan dgn kepolisian setempat. ..hehehe emang gila dannekat wahabi.

sumber : Yanda Mahyalil Aceh

Related Posts:

Pemberontak Syiria Dibantu Amerika


Komite senat Amerika akan mempersenjatai Jihadis di Syria




Para pembuat undang-undang (Komite Senat) melakukan pemungutan suara untuk memberikan senjata kepada teroris dan kekuatan jihadis di Syiria, jadi para pembuat undang-undang tersebut akan mempersenjatai preman l Qaeda, dan kekuatan radikal asing lainnya serta para pengikut fanatik di negara berdaulat agar berganti rezim dan menyingkirkan Bashar al-Assad, Presiden Syria.

Komite hubungan luar negeri di AS memberikan bantuan senjata dan amunisi kepada teroris di Syria, sedangkan kekuatan radikal dan “islamis” tetap disebut sebagai “pemberontak syiria” oleh pemerintah AS dan bias media amerika (menyebut “pemberontak”) dengan harapan menjaga propaganda, sebab “pemberontah” lebih terdengar baik daripada menyebut “jihadis”, bukan? Bantuan tersebut akan diberikan saat ini, yang dipimpin oleh para operator dan pejuang al Qaeda.

Keputusan dan langkah Amerika dan kepemimpinan Amerika saat ini tidak jelas, sebab Obaba dan Dewan Perwakilan Amerika sejauh ini ragu-ragu untuk mengambil tindakan militer umum di Suriah, yang tidak berarti bahwa mereka tidak mendukung jihad dan pasukan radikal di balik tirai.

Lagian, mereka pembuat UU hendak mempersenjatai kelompok fanatik, jihadis dan kekuatan lain untuk mendorong pergantian rezim di Syria, di saat para pemberontak/teroris melawan penduduk dan tentara dari sebuah negara berdaulat, ini adalah hal buruk. Mungkin ini menunjukkan kemunafikan para pembuat undang-undang Amerika dan anggota pemerintahan juga.

Sumber : Syiria News

Related Posts:

AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR



Beberapa kali saya mendapat cerita lucu tentang semangat dakwah di perkotaan, betapa sekelompok orang yang punya ciri khas bercelana cingkrang mendekati gerombolan Pemuda yang sedang asyik ngobrol di tempat tempat yang dikondisikan sebagai tempat bersantai.
Mereka dengan semangat dan tabah menceramahi para pemuda yang kebanyakan dari kalangan Mahasiswa untuk ingat mati, bercerita tentang panasnya api neraka, indahnya taubat dan segala macam kebaikan sorga.

Iya, iya baik, bagus, terimakasih, anda benar, begitulah respon para pemuda itu ketika itu, dan gelak tawa segera meledak sesaat setelah sang pendakwah itu berlalu melanjutkan Dakwahnya. Itu masih mending, terkadang sang pendakwah hanya dibiarkan saja berkhutbah, sementara para pemuda itu melanjutkan ngobrol asyiknya tanpa menghiraukan jalan hidayah dibentangkan oleh sang pendakwah.

Tidak dalam rangka mengkrtik penampilan atau gaya dakwah mereka, tetapi seperti yang telah maklum bahwa jika semangat dakwah mereka memang termotivasi oleh Ayat 104 Surah Ali ,Imran berikut, ada beberapa hal yang perlu ditawarkan, agar semangat dakwah dapat memenuhi sasaran dan maknanya:

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون

“Dan agar ada dari kalian Ummat yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan dengan hal yang ma’ruf, dan mencegah dari munkar, dan demikianlah mereka yang beruntung”

Sekilas memang tidak ada masalah jika ada yang mengajak kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi munkar, apalgi jika kita cermati ada semacam kalimat perintah yang jelas dalam Ayat tersebut.

Namun sesederhana itukah pemahaman pesan didalamnya? Para mufassir justru menitik beratkan pembahasan Ayat tersebut pada kalimat min didalamnya. Apakah min tersebut mengandung pengertian sebagian atau keseluruhan.
Yang berpendapat min disitu adalah min dalam pengertian keseluruhan dengan membandingkannya dengan Ayat 110 Surat Ali ,Imron :
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

“Kalian adalah sebaik baik Ummat yang dimunculkan kepada Manusia, kalian perintah yang ma’ruf dan mencegah dari yang munka “

Ada yang berpendapat bahwa min tersebut adalah dalam pengertian Tab,idl atau sebagian saja, bahkan ada juga yang berpendapat khitob didalamnya adalah tertuju pada Para Sahabat Rosulullah saja. Dan alasan yang berpendapat min tab,idl ini  memakai perbandingan  Ayat 122 Surat Attubah:

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين

“Maka mbokya berangkat dari sebagian kelompok dari Mukminin satu kelompok untuk memperdalam Agama”

Jika kita memilih opsi pertama maka konskwensinya setiap mukallaf wajib baginya untuk beramar ma’ruf nahi munkar sesuai klasnya masing masing, yaitu dengan tangannya, lisannya dan hatinya. Tentu saja opsi pertama ini masih perlu pembahasan panjang lebar sesuai syarat dan pasyaratnya disetiap jenjang atau klasnya masing masing, seperti kekuasaan adalah haknya Ulil Amri, Lisan haknya ‘Ulama dan Hati haknya kaum lemah.

Berikut adalah cuplikan pentfsiran opsi pertama dalam tafsir Arrozi:

هو أنه لا مكلف إلا ويجب عليه الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، إما بيده، أو بلسانه، أو بقلبه، ويجب على كل أحد دفع الضرر عن النفس إذا ثبت هذا فنقول: معنى هذه الآية كونوا أمة دعاة إلى الخير آمرين بالمعروف ناهين عن المنكر
 
   Nah jika kita memilih opsi yang kedua, yaitu min Tab,idl maka dijelaskan didalamnya bahwa yang mendapat perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah ‘Ulama, dengan alasan seorang yang beramar ma’ruf nahi munkar haruslah tahu batas dan definisi ma’ruf atau munkar, jangan sampai ada tindakan gegabah sebab pemahaman munkar misalnya yang sebnarnya bukanlah dalam kategori munkar, atau menganggap ma’ruf tetapi sebenarnya adalah munkar. Lihat dalam tafsir Arrozi ketika menafsirkan ayat tersebut, bahkan Imam Al Qurthubi lebih memilih min dalam arti Tab,idl dalam tafsirnya. Berikut tafsirnya:

و «مِن» في قوله «مِنكم» للتبعيض، ومعناه أن الآمِرِين يجب أن يكونوا علماء وليس كل الناس علماء. وقيل: لبيان الجنس، والمعنى لتكونوا كلكم كذلك. 
   قلت: القول الأوّل أصح؛ فإنه يدل على أن الأمر بالمعروف والنهيّ عن المنكر فرض على الكفاية، وقد عيّنهم الله تعالى بقوله: {ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّـنَّـٰهُمْ فِى ٱلارْضِ أَقَامُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا ٱلزَّكَـوٰةَ وَأَمَرُوا بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ ٱلْمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلامُورِ} (الحج: 41) الآية. وليس كل الناس مُكِّنُوا.
 
  

Related Posts:

TATA CARA BERSUCI



Agar ibadah kita diterima Allah maka dalam melaksanakan tata cara bersuciyang menjadi salah satu ajaran islam ini, kita harus melaksanakannya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdasarkan pemahaman para salafus salih, sebelum kita menginjak kepembahasan tata cara bersuci ini, lebih dahulu kita harus mengetahui bahwa bersuci itu ada dua macam:

1.     Bersuci dari Najis
2.     Bersuci dari hadats

Tata cara bersuci dari najis ini juga membutuhkan penjelasan husus, kita juga harus terlebih dahulu mengenal macam macam najis agar tepat dalam menjalankan tata cara bersuci dari Najis sesuai dengan pemahaman para Salaf.

Demikian juga tata cara bersuci dari Hadats, agar tepat dalam melaksanakantata cara bersuci dari Hadats sesuai manhaj Salaf, terlebih dahulu kita harus pula mengetahui macam macam najis..
Macam macam Najis:

Menurut Imam Khanafi membagi Najis menjadi dua kategori:
1.     Najis Mugholladhoh
2.      Najis Mutawassithoh

Menurut Imam Malik tidak membagi bagi Najis dalam beberapa Kategori.

Adapun menurut Imam Syafi,I membagi Najis menjadi tiga kategori:

3.     Najis Mugholladhoh
4.     Mutawassithoh
5.     Mukhoffafah

Menurut Imam Ibnu Hanbal membagi Najis menjadi dua kategori, yaitu:

1.     Najis Hukmiyyah
2.     Najis Haqiqiyyah

Tata cara bersuci dari Najis Mugholladhoh atau mensucikan dari Najis Mugholladhoh menurut para Salaf adalah sebagai berikut:

Pembagian yang ada di kalangan ulama Hanafiyah juga terkenal di kalangan ulama selain ulama madzhab Hanafi. Ulama madzhab Maliki menambah satu pembagian lain, yaitu najis yang disepakati najisnya dalam madzhab dan satu lagi ialah najis yang dipertikaikan najisnya dalam madzhab.

Najis-najis yang disetujui hukum najisnya ada delapan belas, yaitu air kencing manusia dewasa, tahinya, air madzi, air wadi, daging bangkai, anjing dan babi dan tulang keduanya, kulit babi, kulit bangkai (binatang selain anjing dan babi) yang belum lagi disamak, bagian anggota yang terpisah dari binatang yang masih hidup semasa hidupnya, kecuali bulu dan apa saja yang seumpamanya, susu babi, bahan cair yang memabukkan, air kencing binatang yang dilarang memakannya, tahinya, air mani, darah, dan juga nanah yang banyak.

Adapun najis-najis yang diperselisihkan hukum najisnya dalam madzhab Maliki ada delapan belas, yaitu air kencing anak-anak yang belum memakan makanan ap apun, air kencing binatang yang makruh dimakan, kulit bangkai binatang yang sudah disamak, kulit binatang yang disembelih dari jenis binatang yang haram dimakan dagingnya, tulangnya, debu bangkainya, gading gajah, darah ikan paus, (darah) lalat, kadar yang sedikit dari darah haid, kadar yang sedikit dari darah yang bercampur dengan nanah, air liur anjing, susu binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya selain babi, susu yang bercampur najis, keringat yang bercampur najis, bulu babi, dan juga arak yang sudah berubah menjadi cuka.

Konsekuensi dari pembagian-pembagian ini akan jelas kelihatan dalam pembahasan mengenai tata cara bersucinya dan mengenai ukuran najis yang dimaafkan.


Najis mutawassithah dibagi menjadi dua:

    Najis ‘ainiyah
    Ialah najis yang berujud/terlihat

    Najis hukmiyah
    Ialah najis yang tidak kelihata bendanya, seperti bekas kencing, atau arak yang sudah kering dan sebagainya.


    Untuk membuat perbandingan pada pendapat ulama dari 5 mazhab, kami membagi najis ke dalam kelompok sebagai berikut:
    • Anjing
    • Babi
    • Bangkai
    • Darah
    • Mani
    • Nanah
    • Kencing
    • Sisa binatang
    • Benda cair yang memabukkan
    • Muntah
    • Madzi - Cairan yang keluar dari lubang depan ketika ada rangsangan seksual
    • Wadzi - Cairan amis yang keluar setelah kencing

    1. Mazhab Jafari

    Menurut pandangan mazhab ini maka klasifikasi berikut ini dianggap sebagai:

    • Anjing : Najis, bejana yang dijilat dibasuh 1x dg tanah 2x dg air
    • Babi : Najis, bekasnya dibasuh air 7x
    • Bangkai : Najis, mayat najis kecuali yang Muslim
    • Darah : Najis, untuk semua hewan yg darahnya mengalir dan semua manusia syahid atau tidak
    • Mani : Najis, kecuali dari binatang yang darahnya tidak mengalir.
    • Nanah : Suci
    • Kencing : Najis
    • Sisa binatang : Suci kecuali hewan yang dagingnya tidak dimakan
    • Benda cair yang memabukkan : Najis termasuk yang asalnya cair
    • Muntah : Suci
    • Madzi : Suci
    • Wadzi : Suci

    2. Mazhab Hanafi

    Menurut pandangan mazhab ini maka klasifikasi berikut ini dianggap sebagai:

    • Anjing : Najis
    • Babi : Najis
    • Bangkai : Najis. Mayat najis tanpa kecuali
    • Darah : Najis kecuali darah orang syahid yang berada pada badannya
    • Mani : Najis
    • Nanah : Najis
    • Kencing : Najis
    • Sisa binatang : Semua sisa hewan yg tidak terbang najis. Jika terbang dan buang air di udara suci. Jika buang air besar di bumi seperti ayam dan angsa najis.
    • Benda cair yang memabukkan : Najis
    • Muntah : Najis
    • Madzi : Najis
    • Wadzi : Najis


    3. Mazhab Maliki

    Menurut pandangan mazhab ini maka klasifikasi berikut ini dianggap sebagai:

    • Anjing : Bejana dibasuh 7x karena taat bukan karena najis• Babi :
    • Bangkai : Najis. Semua mayat suci
    • Darah : Najis kecuali darah orang yg syahid
    • Mani : Najis
    • Nanah : Najis
    • Kencing : Najis
    • Sisa binatang : Najis kecuali yang halal dimakan
    • Benda cair yang memabukkan : Najis
    • Muntah : Najis
    • Madzi : Najis
    • Wadzi : Najis

    4. Mazhab Syafi'i

    Menurut pandangan mazhab ini maka klasifikasi berikut ini dianggap sebagai:

    • Anjing : Najis. Harus dibasuh 7x, satu diantaranya dengan tanah.
    • Babi : Najis. Sama seperti anjing
    • Bangkai : Najis. Mayat manusia suci.
    • Darah : Najis kecuali darah orang yg syahid.
    • Mani : Suci termasuk yg dari binatang kecuali anjing dan babi
    • Nanah : Najis
    • Kencing : Najis
    • Sisa binatang :Binatang yg bisa dimakan suci. Yg darahnya mengalir dan daginya tidak dimakan najis.

    • Benda cair yang memabukkan : Najis
    • Muntah : Najis
    • Madzi : Najis
    • Wadzi : Najis

    5. Mazhab Hambali

    Menurut pandangan mazhab ini maka klasifikasi berikut ini dianggap sebagai:

    • Anjing : Najis. Harus dibasuh 7x salah satu dg tanah
    • Babi : Najis . Sama seperti anjing
    • Bangkai : Najis. Kecuali mayat manusia.
    • Darah : Najis. Kecuali darah orang yg syahid.
    • Mani : Mani manusia dan binatang yg halal suci. Selain itu najis.
    • Nanah : Najis.
    • Kencing : Najis
    • Sisa binatang : Sisa binatang yang darahnya mengalir dan tidak dimakan najis.
    • Benda cair yang memabukkan : Najis.
    • Muntah : Najis
    • Madzi : Suci.
    • Wadzi : Najis

Najis yang disepakati Para Salaf dalam klasifikasi dan tata cara bersuci darinya dapat disimpulkan sebagai nberikut:

1. Najis Mugallazah (Najis berat)
Contohnya : najis anjing
Cara mensucikannya : Hendaknya dibasuh tujuh kali dengan air suci lagi mensucikan, satu diantaranya diselangi dengan tanah yang dicampur air.

2. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)
Contoh : air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain ASI
Cara mensucikannya : cukup dengan memercikan air pada benda yang terkena najis

3.Najis Mutawassitah (najis pertengahan).

najis pertengahan terbagi dua macam yaitu :

a. Najis Hukmiah yaitu najis yang kita yakini adanya, namun tidak nyata zat, bau, rasa dan warnanya. seperti air kencing yang sudah kering. cara mensucikannyanya : cukup mengalirkan air diatas benda yang terkena najis

b. Najis 'ainiyah yaitu najis yang masih ada zat, warna, rasa, baunya. cara  mensucikannya : dengan mencucinya.

Demikianlah sedikit uraian tentang tata cara bersuci dari najis, untuk selanjutnya akan kita bahas tata cara bersuci dari hadats Insyaallah.

Bersambung

Related Posts: