KENAPA SURIAH? (Jawaban Untuk Arrahmah)



Kenapa Suriah? Ya Iyalah, Biar Kita Cerdas , Artikel ini tanggapan dari artikel ‘Kenapa Suriah? Catatan Kecil dari Diskusi di Kampus YARSI’ yang dimuat oleh Arrahmah.com (sumbernya Salam Online).

Untuk mereka yang tak banyak mengamati konflik Suriah dan hanya berpegang pada artikel-artikel singkat atau status FB yang tendensius, isi artikel ini seolah-oleh benar dan ilmiah. Si penulis dengan ‘gaya’ menggunakan istilah ‘data sekunder’ untuk mengkritik Dr Joserizal dan Jerry Gray. Pendapat Dr Jose dan Jerry dianggap tidak valid karena menggunakan data yang didapat dari Google, media Barat dan media pro Suriah. Sebaliknya, data yang diajukan oleh tim mujahidin yang mengaku pernah datang langsung ke Suriah dianggap valid (padahal, itupun bukan ‘data’ melainkan pernyataan salah satu/beberapa hadirin diskusi; bukan pembicara, karena pembicara dari pihak pendukung ‘mujahidin Suriah’, menolak hadir; padahal seharusnya bila mereka benar-benar punya data, mereka mau hadir jadi pembicara untuk mempertanggungjawabkan klaim mereka selama ini).

Ketidakcerdasan si penulis artikel ini justru terlihat dari sini. Lha, emangnya ‘data’ (tepatnya ‘cerita’) yang dibawa oleh tim mujahidin Indonesia itu bisa disebut data primer sehingga lebih kuat dari data yang diajukan Dr Jose dan Jerry? Emangnya penelitian ilmiah dianggap sah dengan mengajukan ‘cerita’ (kata si anu..kata si itu…)? Maaf ya, penelitian itu dianggap sah bila melakukan triangulasi data. Apa itu? Itu adalah proses cross-check data, dengan mewawancarai informan yang berada di pihak yang berseberangan, dengan observasi secara berimbang, serta dengan melakukan studi literatur.

Gampangnya begini: di sebuah kampung ada geng motor. Suatu hari, ada anak yang tertabrak motor. Siapa yang nabrak? Kalau polisi datang ke geng motor, dan para anggotanya menjawab, “bukan kami yang nabrak!” kira-kira polisi akan langsung percaya gitu? Jelas tidak. Polisi akan melakukan observasi, siapa aja yang punya motor dan suka kebut-kebutan di kampung itu. Polisi akan mewawancarai korban. Dan polisi akan memeriksa arsip sejarah (bagaimana masa lalu anggota geng motor itu, adakah yang pernah menabrak orang?)

Yang dilakukan para pendukung teroris Suriah (mohon maaf, di artikel itu sendiri si penulis sudah mengakui kok bahwa Jabhah Al Nusrah adalah Al Qaida; dan siapapun sudah tahu bahwa Al Qaida adalah jaringan teroris transnasional; meski mereka mengaku memperjuangkan Islam tetapi mereka menggunakan cara-cara terorisme. Apa itu terorisme? Belajar dulu deh, cari definisinya. Nanya ke mbah Google juga bisa) adalah berpegang pada satu data saja (yaitu, kata-kata para teroris yang mereka temui di Suriah). Ini jelas bukan data yang valid, karena kalau di-cross check dengan data lainnya (dalam proses triangulasi data), ketahuan bahwa data “kata si anu..kata si itu..” tersebut tidak konsisten dengan data lainnya.

Misalnya: Al Qaida menolak mengakui bahwa mereka dapat suplai senjata dari AS/Israel, tapi beli dari orang Irak, dan orang Irak dapat senjata rampasan dari pasukan AS, makanya ditemukan senjata bermerek made in Israel.

Pertama, ya iyalaaah, Al Qaida ngomong begitu. Kalau ngaku, jatuhlah citra yang mereka bangun selama ini sebagai ‘pejuang Islam” (coba balik lagi ke kasus geng motor di atas). Cara kita memverifikasi perkataan Al Qaida ini adalah dengan melihat catatan sejarah panjang bagaimana dulu terbentuknya Al Qaida, siapa yang awalnya mendanai dan mentraining mereka, siapa sebenarnya bin Laden, apa ideologinya, siapa saja yang terbunuh selama ini..? (coba saja browsing, data menyebutkan bahwa korban terorisme Al Qaeda justru mayoritasnya muslim -yang dianggap kafir oleh Al Qaida-; jadi citra bahwa Al Qaida berjuang melawan Barat adalah bohong belaka).

Silahkan browsing juga, kalau teliti dan niat mencari kebenaran, akan ketemu siapa saja tokoh-tokoh Al Qaida dari Libya yang ternyata agen CIA dan mereka ini yang awalnya melatih para ‘mujahidin Suriah’. Dan ketika pasukan dari Suriah tak cukup (artinya, rakyat Suriah sendiri mayoritasnya tak mau ikut bertempur bareng teroris), mereka mendatangkan pasukan dari luar negeri dengan iming-iming jihadis dan masuk surga.

Sayangnya ada banyak orang Indonesia yang tertipu dan sudah ada 55 warga Indonesia yang tewas gara-gara 'jihad' di Suriah. Coba dicek juga, berapa banyak kebohongan yang dilakukan para pendukung Al Qaida selama ini, misalnya melalui foto-foto yang diklaim sebagai korban Assad, jebule korban di Irak, Pakistan, atau Gaza.

Cara mengecek keaslian foto hanya dalam hitungan detik, tinggal masukkan image-nya ke Google Image, langsung ketahuan sumber foto aslinya. Hari gini masih ketipu sama foto palsu?? Ketika narasumber sudah terbukti sering bohong, apa layak data yang dibawanya diterima begitu saja tanpa triangulasi data? Jadi inilah jawabannya, kenapa Suriah perlu kita cermati? Supaya kita cerdas dan jangan mudah dihasut dan diadu domba. Click here to Reply or Forward

Related Posts: