Minggu, 30 Juni 2013

Filled Under:

Perang Suriyah Telah Direncanakan Dua Tahun Sebelumnya Oleh Arab Spring

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV Perancis, LCP, mantan menteri luar negeri Perancis, Roland Dumas berkata: “Saya akan menceritakan sesuatu padamu. Saya berada di Inggris dua tahun sebelum kekerasan di Suriah terjadi untuk urusan lainnya. Saya bertemu dengan petinggi-petinggi pemerintah Inggris, yang mengaku pada saya bahwa mereka sedang mempersiapkan sesuatu di Suriah. Ini adalah di Inggris, bukan di Amerika. Inggris sedang mengorganisasi sebuah invasi pemberontakan ke Suriah. Mereka bahkan menawarkan pada saya, meskipun saya bukan lagi menteri luar negeri, jika saya ingin berpartisipasi. Secara natural, saya menolak, saya berkata bahwa saya orang Perancis, dan saya tidak tertarik dengan hal ini.”

Dumas melanjutkan dengan memberikan sebuah pelajaran singkat pada pendengar mengenai alasan utama terhadap perang yang kini telah merenggut hidup puluhan ribu orang.

“Operasi ini sejak lama diketahui. Ini disiapkan, dipertimbangkan, dan direncanakan... di wilayah yang ini penting untuk tahu bahwa rezim Suriah ini memiliki sikap yang sangat anti-Israel. Akibatnya, apapun yang terjadi di wilayah ini – dan saya mendengar ini dari mantan perdana menteri Israel yang memberi tahu saya bahwa: ‘kita akan mencoba untuk bersahabat dengan negara-negara tetangga kita tetapi mereka yang tidak setuju dengan kita akan dihancurkan. Ini merupakan sebuah politik, sebuah pandangan sejarah, pada akhirnya, mengapa tidak? Tetapi seseorang harus tahu mengenai hal ini.”

Dumas merupakan seorang pensiunan menteri luar negeri Perancis yang diwajibkan untuk menggunakan kebijaksanaan atau kewaspadaan ketika mengungkapkan rahasia-rahasia yang mungkin bisa mempengaruhi kebijakan luar negeri Perancis. Itulah mengapa ia membuat pernyataan “Saya orang Perancis, dan saya tidak tertarik dengan hal ini.” Ia tidak bisa mengungkapkan peran Perancis dalam rencana Inggris karena ia akan mengekspos dirinya sendiri pada penuntutan untuk mengungkapkan rahasia negara.

Ada banyak sekali informasi yang salah dari agen-agen dalam pers Inggris dan Perancis, banyak diantara mereka dikenal dengan koresponden dan komentator perang ‘sayap kiri’, yang telah mencoba untuk berpura-pura bahwa Israel mendukung Assad secara rahasia. Mereka yang membuat argumen semacam itu, bisa jadi, bodoh, bebal, atau para agen NATO dan Israel yang sengaja memberikan informasi yang salah.

Dukungan Israel untuk militan Al Qaeda di Suriah telah diakui oleh pers-pers yang sudah menjadi mainstream. Misalnya koran Jerman, Die Welt, mempublikasikan sebuah laporan pada 12 Juni mengenai perawatan medis yang dilakukan oleh Israel untuk pejuang-pejuang Al Qaeda.

Israel merencanakan perang pembinasaan ini bertahun-tahun lalu sesuai dengan rencana yang disebut Yinon Plan, yang mendukung balkanisasi semua negara yang dianggap berpotensi menimbulkan ancaman bagi Israel. Entitas Zionis ini memperalat Inggris dan Perancis untuk memanas-manasi keengganan pemerintahan Obama untuk mengirim lebih banyak lagi pasukan berani mati Amerika ke Suriah atas nama Tel Aviv.

Dari sekian negara-negara penyerang Suriah, Israel merupakan yang paling tenang sejak awal. Hal ini karena Laurent Fabius, Francois Holland, William Hague dan David Cameron sedang berusaha melakukan tawar-menawar dengan mencoba untuk menarik Leviathan Israel Amerika ke dalam perang lain yang membinasakan, sehingga Israel bisa mengendalikan cadangan energi di Timur Tengah, akhirnya menggantikan Amerika Serikat sebagai negara adi kuasa di dunia. Penting juga bagi Tel Aviv untuk tetap diam sehingga tidak mengekspos peran mereka dalam ‘revolusi’ ini, mengingat fakta bahwa para Jihadis fanatik ini tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang berjuang untuk Israel.

Ini merupakan ideologi Zionisme yang tidak lagi memperhatikan Yahudi jika dibandingkan dengan perhatian mereka terhadap siapa yang dianggap sebagai musuh mereka. Koloni Yahudi bertekad untuk menjadi negara adi kuasa di Timur Tengah dalam delusi yang gila bahwa hal ini akan menjadikan mereka pengganti Amerika Serikat sebagai sebuah hegemon global, begitu Amerika Serikat kalah dalam perang Israel.

Perdana menteri Israel pernah memberi tahu Bill Maher, pembawa acara talk show Amerika bahwa alasan mengapa Israel selalu memenangi konflik-konflik kecil, sementara Amerika Serikat terhenti di dalam perang tiada akhir adalah, “Rahasianya adalah karena kita memiliki Amerika,” demikian ucapnya.

Tetapi, Israel sendiri sedang hancur perlahan-lahan. Jika ada yang melarang perbudakan penduduk Palestina, bangsa Yahudi masih akan berada di tingkat tertinggi dalam hal kemiskinan di antara negara-negara berkembang dengan semakin banyak orang Yahudi memilih untuk meninggalkan tanah yang ‘dijanjikan’ ini, sebuah negara garnisun yang dipimpin oleh orang-orang gila, entitas anti-Semit yang mengancam untuk meliputi dunia ini dengan perang dan kehancuran. Israel tidak lagi memperhatikan Yahudi kelas pekerja dibandingkan dengan komunitas etnis lainnya.

Faktanya, jika para penjahat Likudnik ini memperoleh jalan untuk memerintah koloni Israel, kelas pekerja Israel akan menjadi yang pertama di antara yang lain untuk membayar semua ini, karena mereka diwajibmiliterkan untuk melawan para teroris yang diciptakan oleh pemerintah mereka sendiri. Dengan protesnya Yahudi ortodoks di jalan-jalan New York menentang Israel dan minoritas Yahudi Haredi menentang merajalelanya militarisme Israel, Zionisme muncul di balik meningkatnya serangan dari otoritas agama Yahudi dan Yahudi non-Zionis yang keduanya berada baik di dalam atau di luar wilayah pendudukan mereka.

Ini bukan kali pertama bagi Roland Dumas untuk berbicara menentang perang agresi yang dilancarkan oleh rezim Perancis secara berturut-turut. Pada 2011, ia mengungkapkan bahwa ia telah diminta oleh Amerika Serikat ketika ia menjadi menteri luar negeri di pemerintahan Mitterrand untuk mengorganisasi pengeboman terhadap Libya. Dalam peristiwa itu, Perancis menolak untuk bekerja sama. Dumas, yang juga menjadi seorang pengacara, menawarkan untuk membela Colonel Gaddafi di pengadilan kriminal internasional ketika ia ditangkap oleh Nato.

Dumas juga vokal dalam mengutuk kebrutalan Perancis dalam pengeboman neo-kolonial di Pantai Gading di awal tahun 2011, melalui pasukan pembunuh dan teroris yang hampir mirip dengan pasukan yang kemudian dikerahkan di Libya dan Suriah dilepaskan di antara pada penduduk di Pantai Gading dengan tujuan untuk menempatkan diktator Alassane Quattara, seorang boneka IMF, untuk menjadi penguasa di sana. Gbagbo digambarkan sebagai salah satu pemimpin Afrika terbesar 20 tahun terakhir ini oleh Jean Ziegler, seorang sosiolog dan mantan anggota Komite Penasehat Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Gbagbo memiliki rencana untuk menasionalisai bank-bank dan merebut kendali atas mata uang negara dari lembaga keuangan kolonial di Paris. Ia juga ingin menurunkan efek-efek buruk dari restrukturasi IMF dengan menasionalisasikan industri-industri dan menciptakan pelayanan kesehatan yang universal secara gratis. Semua ini mengancam kepentingan perusahaan-perusahaan Perancis di bekas koloni Perancis. Sehingga, oligarki Paris kemudian berupaya untuk menemukan pengganti yang cocok untuk mengurus koloni Pantai Gading ini.

Mereka mengirim pasukan teroris bersenjata, atau ‘pemberontak’ dalam keambiguan imperialisme, yang membunuh di hadapan mereka sementara media Perancis menyalahkan presiden Gbagbo untuk kekerasan yang terjadi. Gbagbo dan Gaddafi telah menentang Africom, rencana Pentagon untuk mengkolonialisasi kembali Afrifa. Itu merupakan alasan lain untuk pengeboman dua negara Afrika itu di tahun 2011.

Rumusnya selalu sama. Imperialisme menyokong ‘pemberontak’, kapanpun kepentingannya terancam oleh rezim yang mencintai negara mereka lebih besar dari perusahaan asing. Kita tidak boleh lupa peristiwa selama Perang Saudara Spanyol 1936, Jenderal Franco dan kroninya juga adalah ‘pemberontak’ dan mereka, sebagaimana rekan-rekan mereka di Libya pada 2011, dibom oleh kekuasaan asing, yang kemudian mengganti pemerintahan progresif-republik dengan fasisme.

Ada banyak orang-orang pro-Israel yang fanatik di Perancis yang menggunakan analogi perang saudara Spanyol sebagai pembenaran untuk upaya intervensi di Libya dan Suriah. Pseudo-filsuf, Henry Bernard Levy adalah salah satunya. Tentu, Levy dengan sangat bebal tidak menyadari bahwa alasan Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat tidak melakukan intervensi secara resmi dalam perang saudara Spanyol adalah karena mereka diam-diam membantu para ‘pemberontak’ sejak awal. Mereka memungkinkan terjadinya pengiriman senjata untuk Franco dan teman-teman ‘pemberontak’nya sembari berupaya untuk menghalangi atau mencegah pengiriman senjata untuk pemerintah Spanyol, sebagaimana Suriah saat ini, dibantu oleh Moscow. Siapapun yang mempelajari mengenai perang saudara Spanyol, tahu bahwa semua negara imperial ini menginginkan Franco menjadi benteng untuk melawan komunisme.

Tak ada satupun yang lebih dicintai imperialisme selain pemberontakan tanpa sebab. Sementara yang dibenci imperialisme, adalah para revolusioner. Itulah mengapa ‘pemberontak’ yang dikirim imperialisme ke negara-negara lain untuk menjajah mereka atas nama bank-bank dan perusahaan-perusahaan asing, harus dipasarkan sebagai ‘revolusioner’ untuk menjamin dukungan dari pasukan borjuis picik Monty Python, golongan ‘sayap kiri’ seperti Democracy Now! dan sejenisnya.

Dumas bukanlah satu-satunya pejabat tinggi Perancis yang mencela New World Order. Mantan duta besar Perancis untuk Suriah, Michel Raimbaud menulis sebuah buku pada tahun 2012 yang berjudul ‘Le Soudan dans tous les états’, di mana ia mengungkapkan bagaimana Israel merencanakan dan menghasut perang saudara di Sudan utara untuk membalkanisasi negara yang dipimpin oleh pemerintah pro-Palestina. Ia juga mengekspos kelompok media pro-Israel dan LSM-LSM ‘hak asasi manusia’ untuk menciptakan narasi ‘kemanusiaan’ yang menyerukan adanya intervensi militer Amerika Serikat dalam konfik itu.

Subyek penelitian ini dibahas secara luas oleh jurnalis investigasi Afrika, Charles Onana dalam bukunya Al-Bashir & Darfour LA CONTRE ENQUÊTE pada 2009.

Ada banyak pensiunan pejabat Perancis yang berbicara mengenai kebijakan yang menyebabkan kehancuran ini dalam pemerintahan Perancis, termasuk di dalamnya mantan kepala intelijen Perancis Yves Bonnet. Ada juga laporan-laporan mengenai perbedaan pendapat di dalam angkatan bersenjata Perancis dan aparat intelijen.

Setelah pembunuhan Kolonel Gaddafi di Oktober, 2011, mantan duta besar Perancis untuk Libya, Christian Graeff, berbicara pada stasiun radion Perancis, France Culture, bahwa mereka bertanggung jawab untuk penyebaran kebohongan dan propaganda perang atas nama Nato selama perang. Graeff juga memperingatkan penyiar radio bahwa salah informasi semacam itu hanya terjadi di dalam pikiran yang diperbudak, tetapi tidak di negara dengan pikiran bebas.

Kekuatan lobi Israel di Perancis merupakan hal yang jarang didiskusikan dalam berbagai kalangan. Di Perancis, ada hukum yang menolak pertanyaan atau penolakan holocaust. Meskipun demikian, penolakan terhadap holocaust di Korea, Guatemala, Palestina, Indonesia, dan puluhan genosida yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel tidak hanya sah, tetapi juga merupakan norma yang dihormati.

Lobi yang sama, yang memperkenalkan Loi Gayssot di tahun 1990, yang secara efektif mengakhiri kebebasan berekspresi di Perancis, juga melarang investigasi independen mengenai genosida yang narasinya telah mereka tulis, seperti genosida di Rwanda, di mana Israel mengambil peran sebagai pendukung ‘pemberontak’ yang dipimpin oleh Paul Kagame, yang menginvasi Rwanda dari Uganda dari tahun 1991 sampai 1994, yang mengarah pada genosida terhadap Tutu dan Tutsi. Beberapa peneliti dan akademisi yang serius telah menulis mengenai genosida di Rwanda, yang digunakan berulangkali oleh lobi dari Israel sebagai sebuah studi kasus untuk membenarkan intervensi ‘kemanusiaan’ oleh kekuasaan Barat. Kebijakan Zionis ini berupaya memperlihatkan bahwa penulis-penulis ini dituntut untuk ‘meniadakan’ kebohongan-kebohongan imperialisme yang menjijikan dalam konflik Afrika.

Sekarang, lobi Israel tengah memaksa pemerintah Perancis untuk menuntut pesan-pesan di twitter yang dianggap ‘anti-Semit’. Ini merupakan satu langkah lebih maju untuk menciptakan sebuah negara totalitarian dimana semua kritik terhadap imperialisme, perang asing, rasisme, penindasan, dan mungkin akhirnya kritik terhadap kapitalisme masuk ke dalam rubrik ‘anti-Semit’.

Orang-orang ini adalah orang-orang sakit, dan mereka yang menyerah pada mereka adalah orang yang lebih sakit lagi. Mungkin, etimologi kata sakit ‘sickness’ yang serumpun dengan kata dalam bahasa Jerman Sicherheit (security atau keamanan) menurut dictionary.com bukanlah suatu kebetulan. Sebab, apa yang sedang sakit dalam masyarakat kita adalah kultus terhadap keamanan, pengawasan tiada akhir, kamera di mana-mana, kultus terhadap ‘mata serba melihat’, tatapan gasang sebagai bagian dari gencarnya wacana mengenai terorisme oleh mereka yang menspesialisasikan diri dalam pelatihan yang mereka klaim sebagai upaya untuk melindungi kita dari para teroris berbahaya. Meskipun kata security dan sickness ini berhubungan secara linguistik atau tidak, namun, kedua kata ini serumpun secara arti filosofis.

Roland Dumas dan orang-orang sepertinya harus dihargai karena memiliki keberanian untuk mengungkapkan banyak hal yang bagi banyak orang yang korup secara moral, terlalu lemah dan pengecut untuk mengungkapkannya.

Ketika pemerintah Perancis dan agen-agen medianya meneriakkan histeria untuk perang di Suriah, Roland Dumas, sekarang di usia senjanya, memperingatkan orang-orang mengenai konsekuensi terhadap ketidakpahaman mereka mengenai ke mana Israel tengah mengarahkan dunia ini. Akankah ada cukup orang mendengarkan peringatannya?

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright @ 2013 Almuslimuna.